Metrotainment.net – Film Valley of The Wolves : Berlatar mengenai penyerangan Kapal MV Mari Marmara, sebuah kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina namun dihalangi oleh sekelompok pasukan Israel.
Tidak puas hanya menghalangi, MV Mavi Marmara yang berisi 8 orang berkebangsaan Turki, seorang Turki Amerika, dan beberapa relawan lainnya menjadi bulan-bulanan senjata pasukan Israel.
Lalu muncul seorang mata-mata asal Turki yang mengemban misi untuk membalaskan kematian 9 warga Turki dan penderitaan warga Palestina lainnya.
Sang mata-mata, Polat Alemdar, berhasil menyusup ke wilayah Israel dan mencari orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian di atas kapal MV Mavi Marmara, Mose Ben Eliyezer.
Film yang berisi adegan tembak menembak dan kekerasan ini tidak diterima keberadaannya oleh Dubes Israel untuk Turki.
Sang dubes, Gabby Levy, mengecam keras film yang rencananya akan diputar di Turki pada hari Kamis, 27 Januari 2011 silam karena mengandung pesan tersirat yang bisa menjadikan penontonnya sebagai anti semit.
Seperti dikutip dari Wikipedia, antisemitisme adalah suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk-bentuk penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap individu hingga lembaga.
Jelas bahaya bagi Israel jika semakin banyak orang yang menganut anti semit.
Penyesalan sang duta besar bertambah dalam ketika film ini ditayangkan dalam Festival Film Synchronization Date Night bersamaan dengan peringatan korban Holocaust.
Peringatan korban Holocaust adalah peringatan genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II. Bangsa Yahudi di Eropa merupakan korban-korban utama dalam Holocaust.
Jelas merupakan sebuah nelangsa ketika bangsa Israel sendiri berduka, namun muncul sebuah film yang menurut Gabby merupakan sebuah fitnah besar bagi Israel.
Salah seorang parlemen oposisi Jerman, Kristin Griess, mengatakan bahwa film ini bermasalah untuk dimulai, karena mempromosikan kekerasan anti-Israel dan menghasut untuk anti-Semitisme. Dan untuk pemutaran pada tanggal 27 adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Tetapi sang sutradara sekaligus penulis skenario, Zubeyr Sasmaz, berdalih bahwa film ini dipublikasikan agar dunia mengetahui penderitaan rakyat Palestina, bukan untuk menghasut masyarakat agar menjadi anti Israel.
“This is not about taking revenge for Mavi Marmara. The goal of the film is to show what the Palestinians are going through” ujar sang sutradara.
Awalnya Turki dan Israel menjalin kerjasama sejak pertengahan tahun 1990. Hal itu membuat Turki menjadi sekutu terdekat Israel yang beragama Islam.
Tetapi hubungan keduanya kian merenggang ketika Israel terus menerus menekan Palestina dan tidak mengindahkan permintaan Turki untuk menghentikan invansi dan memberikan kompensasi bagi semua korban.
Permasalahan tidak sampai di sini. Ketika pada bulan Januari silam, sehubungan dengan penayangan sebuah episode serial televisi terpopuler tersebut, Deputi Menteri Luar Negeri Israel, Danny Ayalon, memanggil duta besar Turki, Ahmet Oguz Cellikol.
Pertemuan Ayalon dan duta Cellikol berbuntut panjang. Pertama karena Ayalon menolak menjabat tangan sang duta besar Turki. Lalu mendudukkan Cellikol di kursi yang lebih rendah di hadapan kamera televise yang menyebabkan Turki marah besar dengan tindakan tersebut.
Dan sekarang, hubungan Israel dan Turki bertambah tegang dengan adanya film yang menceritakan sepak terjang Polat Alemdar di, Tepi Barat Gaza dan Yerusalem.
Ketika para petinggi dan masyarakat di Israel menolak keberadaan film ini. bagaimana dengan Anda? Apakah Anda akan menontonnya jika film ini masuk ke tanah air Indonesia?

